welcome to Kameko no Kitsune official site
 
Picture
Tatiana Papamoskou (13 y.o.) played as Iphigenia (1977)
Perang Troya: Pengurbanan Iphigenia (1)

"Jika engkau ingin kapal-kapal segera berlayar dan untuk menyenangkan hati sang dewi, engkau harus mengurbankan putri kandungmu dengan tanganmu sendiri."





Amarah sang dewi
Pantai Aulis. Akhirnya seluruh pasukan Yunani sudah berkumpul dan siap untuk belayar ke Troya. Tetapi ada satu hal yang membuat mereka tidak bisa langsung berlayar: angin berhenti bertiup di Aulis. Tanpa angin, kapal-kapal tidak akan bisa pergi berlayar. Para pemimpin pasukan terpaksa menunda keberangkatan sambil menunggu datangnya angin. Tetapi sampai berhari-hari kemudian angin enggan untuk bertiup dan pasukan mulai dilanda kegelisahan.


Melihat kondisi yang tidak seperti biasanya ini, beberapa pemimpin Yunani bertanya kepada Kalkhas, peramal yang diikutsertakan untuk mendampingi pasukan Yunani ke Troya. Inilah yang terjadi menurut penglihatan Kalkhas:

Dewi Artemis telah murka kepada Agamemnon karena raja Mykena itu sering mengabaikan upacara persembahan untuk sang dewi. Baru-baru ini, Agamemnon telah memanah seekor rusa dan panahnya tepat mengenai sasaran hingga rusa itu mati seketika. Ia lalu menyombongkan dirinya bahwa kemampuan memanahnya melebihi kemampuan sang dewi. Hal ini tentu saja membuat Artemis kesal...

Kemudian lagi-lagi Agamemnon melakukan kesalahan yang membuat sang dewi bertambah marah: di hutan Aulis, kambing-kambing liar adalah binatang kesayangan sang dewi dan siapapun dilarang mengganggu binatang itu. Tetapi Agamemnon malah dengan sengaja memanah seekor kambing liar yang dikeramatkan untuk dewi Artemis…

Kemurkaan Artemis tidak tertahankan lagi dan menuntut Agamemnon untuk membayar apa yang ia janjikan bertahun-tahun yang lalu. Agamemnon pernah berjanji kepada sang dewi untuk mengurbankan makhluk paling manis yang lahir di kerajaannya pada tahun itu. Ternyata di tahun yang sama lahir anak perempuan Agamemnon, Iphigenia yang cantik jelita...

Ya, Agamemnon tentu saja tidak pernah mengingat janjinya tersebut, tetapi sang dewi tidak akan pernah lupa. Artemis menuntut Agamemnon untuk melunasi janjinya sekarang, di Aulis. Iphigenia, harus dikurbankan di altar sang dewi dan setelah itu angin akan bertiup kembali. Kalau Agamemnon menolak kemauan sang dewi, pasukan Yunani tidak akan pernah bisa pergi belayar ke Troya!



Agamemnon yang ikut hadir menemui Kalkhas terpaku diam. Kebenaran dan kemampuan Kalkhas untuk menyampaikan pesan dewa-dewa tidak perlu diragukan lagi, tetapi haruskah ia mengurbankan putri tercintanya? Cuma ayah yang sudah sinting saja yang mau melakukannya. Tetapi di sisi lain Agamemnon dihadapkan pada kenyataan bahwa ia adalah pemimpin tertinggi pasukan Yunani dan kehormatannya ikut dipertaruhkan.

Bila Agamemnon menolak mengurbankan putrinya, akan sangat beresiko, karena pasukan Yunani telah menanti berminggu-minggu lamanya di Aulis dan tidak sabar untuk segera berangkat. Mereka tidak akan terima dan pasti akan mengamuk menuntut Iphigenia didatangkan dan memberontak pada Agamemnon. 

Tetapi bagaimana menyuruh Iphigenia datang ke Aulis tanpa ada alasan yang tepat? Tentu saja Agamemnon tidak bisa langsung mengutarakan apa yang telah Kalkhas sampaikan. Lalu bagaimana dengan Klytemnestra? Klytemnestra pasti tidak akan membiarkan putrinya untuk pergi seorang diri ke kamp pasukan Yunani di Aulis. Agamemnon harus memilih alasan yang benar-benar masuk akal karena istrinya itu pasti akan langsung curiga.

Di tengah-tengah kebingungan itu, Odysseus merancang skenario agar Iphigenia bisa datang ke Aulis tanpa dicurigai dan tanpa didampingi oleh ibunya. 

Raja Ithaka yang banyak akal itu mengusulkan agar Agamemnon menulis surat untuk istrinya agar mengirim Iphigenia ke Aulis untuk dinikahkan dengan Akhilles (yang tidak ikut dalam pertemuan itu) sebagai hadiah atas kemenangannya dulu di Mysia. Iphigenia harus datang secepatnya karena upacara pernikahan akan dilangsungkan sebelum pasukan berangkat ke Troya. Dan kedatangan Iphigenia tidak boleh diantar ibunya karena kamp prajurit bukanlah tempat yang pantas didatangi oleh seorang ratu agung Mykena.

Agamemnon masih mematung dan diam membisu. Menelaos lah yang akhirnya bangkit, mengambil lempengan tanah liat dan menulis apa yang telah dikatakan oleh Odysseus di atasnya. Surat itu masih membutuhkan stempel Agamemnon. Setelah para pemimpin yang lain mendesak raja Mykena itu, akhirnya dengan tangan bergetar, Agamemnon membubuhkan stempelnya di surat itu.

Setelah itu, Agamemnon, jendral tertinggi pasukan Yunani, masuk ke dalam kemahnya dan melarang orang lain masuk. Di dalam kemahnya, raja agung itu menangis membayangkan nasib tragis yang harus dialami putrinya kelak…

Prayudi~Greek mythology reteller


Source pic: http://www.getty.edu/visit/events/images/iphigenia.jpg Tatiana Papamoskou (13 y.o.) played as Iphigenia in Iphigenia Movie(1977) 

 


Comments




Leave a Reply