welcome to Kameko no Kitsune official site
 
Picture
Paris membawa lari Helena

Tongkat penuh bara api. Tongkat yang membara itu menyebarkan api ke seluruh kota. Menara-menara terbakar, asap hitam membumbung tinggi dan teriakan pilu orang dimana-mana. Troya menjadi lautan api.Terbakar habis hingga menjadi debu.
Demikianlah mimpi Hekabe (atau Hekuba), ratu Troya dan istri Priamossaat ia sedang hamil tua. Tepat keesokan harinya, ia melahirkan seorang putra laki-laki dengan selamat. Tetapi mimpi buruk itu selalu menghantui Hekabe sehingga ia menceritakan mimpinya kepada suaminya. Raja Troya itu menemui Aisakos, putra dari istri pertamanya yang terkenal dapat menafsirkan mimpi. Jawaban Aisakos begitu mengejutkan:

“Anak laki-laki yang baru saja lahir dari rahim Hekabe akan menyebabkan kehancuran Troya.”

Priamos mempercayai kata-kata  Aisakos. Untuk menyelamatkan kota dan rakyatnya sang raja langsung mengambil tindakan tegas. Ia menyerahkan bayi itu kepada Agelaos, penggembalanya yang setia, untuk dibunuh. Tetapi Agelaos adalah pria yang berhati lembut, yang bahkan tidak tega menyakiti seekor lalat sekalipun. Ia meninggalkan bayi itu begitu saja di hutan di lereng gunung Ida, berharap binatang buas akan memangsa bayi itu.

Namun jauh di lubuk hati Agelaos terbersit rasa iba dan hatinya tidak bisa tenang memikirkan nasib bayi itu. Lima hari kemudian, ia kembali ke dalam hutan ke tempat ia membuang bayi itu. Begitu sampai di sana, ia melihat pemandangan yang sulit dipercaya. Seekor beruang betina dengan tenang sedang menyusui bayi itu!

Merasa ini pertanda dari para dewa yang menghendaki bayi itu hidup, Agelaos memutuskan untuk membawanya pulang dan membesarkannya seperti anak sendiri. Agelaos dan istrinya sangat berhati-hati menjaga putra Priamos itu dan merahasiakan jati dirinya dari orang lain. Karena bayi itu selalu diletakkan di dalam keranjang dan suami istri itu saling mengingatkan untuk menengok keranjang berkali-kali, maka Agelaos memberi nama “Paris” yang saat itu berarti “keranjang”.

Agelaos adalah penggembala yang menjaga ternak-ternak Priamos dan tinggal di luar tembok Troya. Paris tumbuh besar di lingkungan penggembala, di ladang dan di antara ternak-ternaknya. Dari sinilah ia juga memiliki nama kecil Alexandros, sang pelindung, karena ia melindungi ternak-ternaknya dari binatang buas. Ia memiliki seekor banteng peliharaan yang sangat ia sayangi. Banteng yang besar, gemuk dan berwarna putih seperti susu.


Suatu hari, beberapa prajurit Priamos datang ke kediaman Agelaos, yang terletak di luar tembok Troya. Mereka meminta Agelaos menyerahkan banteng terbaik yang ia miliki untuk dijadikan persembahan dalam festival untuk mengenang putra Priamos, yang dianggap sudah tiada. Dan banteng yang dipilih adalah banteng putih kesayangan Paris.

Paris yang bersikeras tidak mau berpisah dengan banteng kesayangannya  memutuskan untuk mengikuti perlombaan yang diadakan dalam festival itu. Ia berharap dapat memenangkan banteng miliknya kembali. Dengan ditemani oleh Agelaos, Paris berangkat menuju tempat pertandingan yang juga dihadiri oleh Raja Priamos beserta istrinya.

Pertama-tama Paris mengikuti pertandingan gulat melawan putra-putra Priamos, di luar dugaan ia memenangkan pertandingan itu. Kemudian, Paris ambil bagian dalam nomor perlombaan lari. Namun tidak ada seorangpun yang dapat mengalahkan kecepatan berlari Paris sehingga sekali lagi ia juara. Dan saat putra-putra Priamos menantangnya dalam perlombaan lari yang kedua kali, Paris mengalahkan mereka dengan mudah. Tiga kemenangan berturut-turut yang diperoleh seorang anak penggembala.

Tentu saja, hal ini membuat malu pangeran-pangeran Troya, mereka menuduh Paris berbuat curang. Salah seorang putra Priamos, Deiphobosmenghunus pedangnya dan tiba-tiba menyerbu ke arah Paris. Paris dengan sigap menghindar dari serangan itu dengan melompat ke altar Zeus. Suasana makin panas, Deiphobos nampaknya sudah tidak sabar untuk membunuh Paris. 

Tiba-tiba, Kassandra, putri Priamos yang bisa melihat masa depan, melarang Deiphobos melukai Paris. Ia mengenali Paris sebagai putra Priamos. Tapi tak seorangpun yang percaya ocehan Kassandra...

Sebelum semuanya terlambat, Agelaos menghambur ke arah Priamos dan Hekabe, untuk menceritakan semuanya. Tentang ia yang tidak berani membunuh Paris dan meninggalkannya di hutan. Tentang seekor beruang yang menyusui Paris. Tentang rahasia yang ia tutupi bahwa Paris sebenarnya, putra Priamos yang hari ini hari kematiannya sedang dikenang.

Seluruh orang yang hadir terdiam. Tetapi begitu Agelaos menunjukkan kain bekas gendongan Paris saat diserahkan kepadanya, sang raja tak mampu berkata apa-apa lagi. Priamos memeluk anak laki-lakinya yang ‘hilang’. Di sampingnya, Hekabe menangis bahagia. 

Di tengah-tengah kegembiraan itu, Kassandra kembali mengingatkan Priamos ramalan di saat sebelum Paris lahir. Priamos menjawabnya dengan kalimat tegas:

“Aku lebih suka seisi Troya hancur menjadi abu daripada kehilangan putraku sekali lagi.”

Kassandra meracau, mengungkapkan apa yang dilihatnya akan menimpa Troya. Tetapi Priamos tidak menghiraukan ocehannya...

Prayudi~Greek mythology reteller

Source pic: http://images.perseus.tufts.edu/images/1993.01.1/1993.01.0455

 


Comments




Leave a Reply